“Sepenggal Kisah Cinta Aktivis Dakwah Kampus”

Bismillah…

Ada yang istimewa di acara Pelatihan Aktivis Dakwah Kampus (ADK) KMM pekan yang lalu, kegiatan yang lebih bersifat malam pengakraban antar kader, malam yang penuh kehangatan bagi pengemban dakwah kampus ini telah meninggalkan kisah indah. Sebuah romansa cinta karena Allah ta’ala.

Di malam hari setelah sesi pelatihan retorika, panitia mengadakan sesi sharing with kepala KMM. Sesi yang membahas, ‘Mau dibawa kemana KMM ini??’ ini dipandu langsung oleh Pak Kepala. Namun, sebelum sesi ini dimulai ada penyampaian materi pembuka dari sesepuh KMM angkatan 2009, Kang Adit. Beliau hendak memaparkan fakta tentang kondisi pergaulan di masyarakat saat ini, khusunya di kampus STKS. Di awal pembicaraannya, beliau bertanya kepada peserta “Pernahkah teman-teman melihat dua orang akhwat yang saling bertemu kemudian bersalaman sambil cipika-cipiki satu sama lain??” beliau menanyakan sambil memeragakan proses cipika-cipiki. “Pernah…!!!” jawab peserta antusias. “Bagaimana perasaannya??” sambung Kang Adit.  Ada yang menjawab biasa saja, wajarlah, dan ada yang mengatakan itu merupakan sunnah..

Kemudian Kang Adit melanjutkan, “Pernahkah teman-teman melihat dua ikhwan yang bertemu kemudian bersalaman sambil cium pipi kiri kanan??” ucapnya sambil mengerlingkan mata genit. “…..” peserta terdiam tapi menyimpan tawa kecil. “Kasih contoh donk..” celetuk salah seorang peserta akhwat (meureunan si Lena eta mah.. hehehe..) peserta terlihat gaduh mendengar jawaban tadi.

Kang Adit merasa speechless, hingga akhirnya ia mengajak salah seorang ikhwan untuk memeragakan proses salaman yang dimaksud, tapi beberapa langsung menghindar ke belakang. Kang Adit terlihat bernafsu untuk memeragakannya, ia memanggil Kepala KMM. Tapi tidak ada respon. Beberapa menit kemudian, Pak Kepala KMM maju ke hadapan Kang Adit dengan menggandeng Nurdin, Ketua Panitia kegiatan Pelatihan ADK.

Peristiwa yang tidak diduga pun terjadi.

Kepala KMM berdiri berhadapan dengan Nurdin dan secepat kilat mencium kening Nurdin.

Ciuman hangat, syahdu, ikhlas tanpa paksaan, dan dengan penuh kesadaran tentunya. Sontak peserta tercengang, kaget, menjerit, shock, bahkan ada yang tersedak saat mium kopi. Kang Adit sampai terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Ia beristighfar berkali-kali.

Keadaan berubah menjadi riuh, beberapa peserta tertawa, beberapa diantaranya menggeleng-geleng kepala tidak menyangka. Kang Adit mencoba menenangkan keadaan. “Ulangi lagi..!!” teriak seorang peserta akhwat (meureunan si Lena deui eta mah.. dasar. hehehe..)

Sebuah peristiwa, atau mungkin fenomena yang langka terjadi diantara kita. Tentu ciuman yang dilakukan Kepala KMM bukan ciuman syahwat. Tidak mungkin! Beliau tentu mafhum bahwa Nurdin bukanlah mahrom baginya, Nurdin bukanlah akhwat idaman Kepala KMM, bagaimana tidak, ia tidak berjilbab, ia tidak memakai kerudung, dan dia seorang laki-laki!

Selama ini, KMM melalui Kajian Ikhwan “Sistem Pergaulan Islam” tidak pernah mengajarkan agar laki-laki menjauhi perempuan dan beralih mendekati sesama laki-laki, Tidak! Ikhwan KMM bukanlah makhluq jumud yang terlalu kaku untuk berhadapan dengan akhwat, namun menyimpan rasa kepada sesama jenis. Na’udzubillah…

Oleh karenanya, kalau dilihat dengan mata batin, itulah ciuman cinta karena Allah SWT, sebuah ungkapan sayang diantara mukmin yang satu dengan yang lainnya. Kepala KMM mengerti betul dalil tentang umat muslim yang umpama satu tubuh. Bahwa berkasih sayang terhadap sesama muslim adalah ibadah, bahwa mencurahkan cinta dan benci semata-mata karena Allah ta’ala. Bahwa hidup terlalu sempit kalau ungkapan cinta, kasih, dan sayang hanya terbatas pada romansa cinta dua insan berlawanan yang di mabuk asmara.

Bahwa ungkapan cinta kepada sesama muslim juga merupakan ekspresi dari gharizah taddayun, tidak sekedar gharizah nau semata. Eratnya jabatan tangan, ikhlasnya ciuman, hangatnya pelukan bukan hanya milik sepasang suami istri. Itu hak muslim satu dengan yang lainnya. Sakitnya ikhwan satu, sakit juga ikhwan yang lain. Sedihnya ikhwan satu, sedih juga ikhwan yang lain. Bahagianya ikhwan satu, tentu bahagianya ikhwan yang lain. Karena Allah ,satu dan yang lain saling merasakan. Itulah mengapa disebut ikhwah fillah

Dalam persiapan kegiatan Pelatihan ADK, Kepala KMM mengerti benar bagaimana jungkir baliknya Nurdin dalam menyukseskan kegiatan ini, ia tahu kerja keras Nurdin yang sekuat tenaga mencurahkan segala daya upaya agar amanahnya tidak mengecewakan dan mendapat ridho Allah SWT. Ia paham, pengorbanan yang Nurdin lakukan bukan semata karena menggugurkan tugasnya saja, namun jauh dibalik itu semua terkandung niat yang ikhlas lillahi ta’ala.

Kepala KMM melihat pengorbanan yang Nurdin lakukan sesuai dengan apa yang ia harapkan. Kerja cerdas, Berjuang keras, dan Tulus ikhlas. Bahkan terkadang, Kepala KMM merasa bersalah telah memarahi Nurdin karena setitik kesalahan. Teguran dialamatkan kepadanya, lantaran Nurdin kurang pandai mengatur waktu, ia memikirkan konsep acara sampai larut malam, ia berhadapan dengan laptop sampai matanya memerah demi membuat desain pamphlet sedemikian rupa agar menarik peserta sebanyak-banyaknya. “Cukup Nurdin, istirahatlah! Kamu bukan superman!” (kayak di film ‘habibie ainun’, hehehe…)

Kepala KMM tidak mau ‘bencana’ terjadi di Lembaga Dakwah yang dipimpinnya, ia mencoba mengingatkan staf yang lain agar bahu membahu bekerja sama menyukseskan kegiatan Pelatihan ADK ini. Namun, hati orang siapa yang dapat menjamin. Nurdin tahu itu, ia siap memback up amanah anggotanya yang tidak terlaksana. “kalau bukan kita, siapa lagi?” ungkapnya suatu ketika.

Sebuah pemahaman akan mabda yang melahirkan tindakan ibadah, sebuah aqidah yang mampu menggerakkan seseorang berbuat amal sholeh. Sebuah ikatan yang kuat, yang tak tergoyahkan bahkan berubah hanya karena perasaan emosional semata. Ikatan idrak silah billah yang menancap kuat dalam keyakinan akan pentingnya bersaudara dan berjamaah. Dari situ lahirlah cinta, lahirlah mahabbah karena Allah. Itulah ikhwah fillah…

Inilah mengapa, dengan ikhlas Kepala KMM mencium kening Nurdin, sang Ketua Pelaksana. Sebuah ekspresi kasih sayang kakak kepada adiknya, ekspresi hangat kepala keluarga kepada anggotanya. Cinta tanpa noda, tanpa nafsu syahwat yang hina, tanpa dusta, dan tanpa imbalan serupa. Sebuah ungkapan cinta yang tidak dapat diurai dengan kata-kata.

Dari sini, kita dapat memetik pelajaran, bahwa ruh jama’iy senantiasa mengiringi sebuah jamaah yang didalamnya terdapat orang-orang yang ikhlas karena Allah SWT, berjuang dan berkorban bukan untuk kepentingan duniawi semata, tapi berjuang dan berkorban untuk ridho ilahi, bergaul, berkeluarga, cinta, dan benci karena Allah ta’ala…

Saudaraku… Sertakanku dalam setiap doamu, Semoga Allah melanggengkan persaudaraan kita, sampai akhir hayat, sampai maut memisahkan, bahkan sampai kita dipertemukan di surga Nya. Amin…

Syaroful Anam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: