Haramnya Taqlid dalam Aqidah

Oleh : Gus Zam Zami Ahmad

Disadur dari  kifayatul awam , bab khilaf ulama tentang sah tidaknya iman muqollid (orang yang taqlid).

فاحرص على الفرق بينهما ولا تكن ممن قلد فى عقائد الدين فيكون ايمانك مختلفا فيه فتخلد فى النار عند من يقول لا يكفى التقليد

“Maka berhati-hatilah atas perbedaan antara keduanya dan janganlah engkau menjadi diantara orang-orang yang bertaqlid dalam aqidah-aqidah agama, karena sebab itu maka jadilah imanmu masih diperselisihkan di dalamnya, lantas engkau kekal di dalam neraka, menurut orang yang berkata : “tidak cukup taqlid itu”

Musannif (pengarang kitab kifayatul awam : Syaikh Muhammad al-Fudholi) menganjurkan agar kita selalu menjaga perbedaan antara dua perkataan yang sama-sama berhukum wajib sedangkan pengertian wajib untuk masing-masing dari dua perkara itu tidak sama.

Seperti contohnya perkataan : “Allah wajib bersifat qudrah”. Maka yang dimaksud wajib disini adalah sesuatu yang tidak dibenarkan oleh akal tiadanya, dengan kata lain tidak masuk akal (mustahil) jika Allah ta’ala tidak bersifatan qudrah (lemah).   Sedangkan jika seseorang itu berkata “Mengi’tiqodkan bahwa Allah bersifat qudrah adalah wajib” maka pengertian wajib disini adalah wajib secara syariat. Artinya sesuatu yang dilakukan akan mendapat pahala dan jika ditinggalkan maka akan disiksa.  Perbedaan makna wajib pada kedua perkara inilah yang harus kita fahami supaya tidak keliru menempatkannya.

Musannif juga menganjurkan agar kita sebaliknya tidak termasuk orang-orang yang taqlid dalam masalah aqidah, karena kalau kita taqlid dalam masalah tersebut maka iman kita jadi mukhtalif (sesuatu yang masih diperselisihkan) karena sebagaian ulama yakni yang berpendapat dengan cukupnya taqlid menyatakan telah tsubut (tetap) iman kita. Sedangkan sebagian lagi yang berpendapat dengan ketidak cukupan taqlid menyatakan bahwa iman kita belum tsubut (tetap). Maka kalau kita taqlid, kita kekal di dalam neraka berdasarkan pendapat yang kedua ini karena itu berarti iman kita belum tsubut. Adapun jika kita tidak taqlid maka para ulama telah sepakat mengenai telah tsubutnya iman kita.

قال السنوسى وليس يكون الشخص مؤمنا اذا قال أنا جازم بالعقائد زلو قطعت قطعا قطعا لا ارجع عن جزمى هذا

“Imam as-Sanusi berkata : Dan seseorang tidak menjadi mukmin jika dia berkata : Saya mantap dengan aqidah-aqidah itu dan andai saya (diancam) untuk dipotong dengan beberapa potongan niscaya saya tidak akan mencabut kemantapan (jazam) saya ini”.

بال لا يكون مؤمنا حتى يعلم كل عقيدة من هذه الخمسين بدليلها وتقديم هذا العلم فرضا كما يؤخذ من شرح العقائد لانه جعله اساسا ينبئ عليه غيره

“Bahkan dia tidak akan menjadi mukmin sehingga dia mengetahui akan setiap aqidah dari yang 50 ini dengan dalilnya (yang ijmali) dan (mengetahui pula bahwa) mendahulukan ilmu ini adalah fardhu sebagaimana dikutip dari kitab Syarhul Aqo’id, karena pengarangnya (yakni Sa’di Taftazani) telah menjadikan ilmu ini sebagai dasar yang terbina atasnya barang yang selanjutnya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: