AL Mahabah Al ‘Ula

Isi Kultum

Pada  :Senin, 1 April 2013

Oleh  : Pak Ilyas dalam “Kuliah Ba’da Dluhur DKM Al Ihsan STKS”

Setiap Insan yang telah mengucapkan dua kalimat Syahadat (Kesaksian) mempunyai konsekuensi atas apa yang telah diucapkan. Syahadat yang merupakan tanda keislaman seseorang bukan sekedar dua bait kalimat yang tanpa makna dan penjelasan. Lantas, apa konsekuensi dari bersyahadat? Tentu beberapa orang sudah tahu dan paham jawabannya. Ialah bertaqwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Sederhana diucapkan, sederhana dilaksanakan, namun yang susah adalah istiqamah nya. Perintah dan Larangan telah Allah jelaskan dalam FirmanNya dan dalam Hadits Rasulullah SAW sebagai panduan manusia dalam menjalani kehidupan dunia ini. Adakalanya, perintah yang Allah sampaikan lalai untuk kita laksanakan, larangan yang Allah murkai terkadang kita kerjakan dengan sadar. Kelalaian yang ada senantiasa disebabkan karena kecintaan kita kepada Allah yang masih kurang dibandingkan dengan kecintaan kita kepada harta dunia.

Inilah yang menjadi tantangan untuk kita selaku manusia yang diberikan oleh Allah SWT berupa rasa cinta yang muncul dari naluri dan hawa nafsu.

Ada tiga cinta (Al Hubb) yang dimiliki manusia yang berkaitan dengan aktivitasnya di dunia ini, yaitu :

  1. Al Mahabbah Al ‘Ula (Cinta yang paling utama)
  2. Al Mahabbah Al Wustho (Cinta pertengahan)
  3. Al Mahabbah Al ‘Adna (Cinta yang rendah)

Ketiga naluri cinta diatas merupakan pemberian dari Allah SWT kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lain. Sebuah naluri alamiah yang senantiasa mempengaruhi segala amal perbuatan manusia di dunia.

Al Mahabbah Al ‘Ula ialah naluri cinta yang paling utama, dikarenakan manusia yang memiliki naluri ini ialah manusia yang lebih mencintai dan mengutamakan kepentingan keimanan kepada Allah lebih besar daripada kepentingan duniawi semata.

Al Mahabbah Al Wustho ialah naluri cinta yang pertengahan (wustho) dimana manusia tersebut memiliki naluri mencintai harta dunia seisinya dengan masih memperhatikan koridor hokum (halal dan haram) dari Allah SWT. Naluri semacam ini sering dialami oleh manusia yang memiliki keimanan yang cukup kuat, sehingga kecintaan duniawi (harta, tahta, wanita, dan t*y*ta) akan ia penuhi asalkan mendapat ridho dari Allah SWT.

Al Mahabbah Al ‘Adna ialah naluri cinta yang paling rendah dimana manusia hanya memikirkan duniawi semata (harta, tahta, wanita, dan t*y*ta) tanpa mengindahkan koridor hokum (halal-haram) dari Allah SWT. Naluri seperti inilah yang saat ini menjadi mayoritas dimiliki ummat manusia. Naluri mementingkan urusan duniawi tanpa memperhatikan syariat dari Allah SWT.

Semoga kita senantiasa memiliki kecintaan terhadap Allah SWT melebihi kecintaan kita kepada dunia. Bagaimana caranya? Mudah diucapkan, Mudah dilaksanakan, susah diistiqamahkan. Taqa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Semoga Allah memudahkan kita dalam beristiqamah.

Barakallahu li wa lakum…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: