Pesan Cinta untuk Pengemban Dakwah KMM

HAMILU DA’WAH/PENGEMBAN DAKWAH LDK KMM (MUBES 16, Maret 2013)

17MAR

بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh: Afa Silmi Hakim (Dewan Syuro’ LDK KMM STKS)

Berangkat dari firman Allah Azza wa Jalla:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104)

Ayat ini menjadi Muqaddimah di dalam AD/ART KMM karena KMM lahir atas perintah Allah diatas, dimana ayat ini adalah firman Allah yang menjadi landasan untuk berkumpulnya sebagian orang yang beraktifitas dalam menyeru kepada الخير ,menyuruh kepada المعروف ,dan mencegah dari المنكر dalam sebuah wadah jama’ah, belum lagi Allah membawa kabar gembira diakhir ayat ini dengan memberikan karunia-Nya kepada orang2 yang menyambut perintah Allah diatas dengan predikat المفلحون , Dan KMM insyallah adalah salah satu wadah organisasi yang menyambut seruan Allah diatas.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut: Makna yang dimaksud dari ayat ini ialah hendaklah ada segolongan orang dari kalangan umat ini yang bertugas untuk mengemban urusan tersebut, seklipun urusan tersebut memang diwajibkan pula atas setiap individu dari umat ini. [Tafsir Ibnu Katsir, juz 4, hal 56]

Menurut Ad-Dahhak: Yang dimaksud dalam ayat ini adalah mereka para sahabat yang terpilih, para Mujahidin yang terpilih dan para Ulama. [Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4, hal 55]

Orang yang mengambil bagian dalam urusan ini sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang terpilih, dimana setiap manusia tidak mengambil urusan ini, bahkan tidak juga setiap muslim, padahal umat islam dikatakan sebagai Umat terbaik oleh Allah sebagaiamna disebutkan dalam QS. Ali Imron: 110. Tetapi umat islam pun tidak semuanya mengambil urusan ini, sehingga orang yang mengambil urusan ini adalah orang yang utama diantara umat islam bahkan umat manusia, karena ia mengambil perkara utama diantara hal yang di fardlukan.

Kalau kita perhatikan ayat diatas akan kita dapati bahwa terdapat 3 aktifitas yang seharusnya juga dilakukan oleh KMM. Yang pertama menyeru الخير, yang kedua menyuruh المعروف ,yang ketiga mencegah atau melarang dari المنكر.  Sebagian mufassir memaknai الخير  dengan الإسلام , (Lihat Tafsir Jalalain) kenapa dimaknai Al-Islam (Alqur’an dan As-Sunnah) hal ini didasarkan pada sebuah hadits Rasulullah SAW, dimana ketika itu Rasulullah SAW membaca ayat diatas lalu bersabda:

الخير اتباع القران وسنتي (رواه ابن مردويه)

Kebaikan itu mengikuti Al-Qur’an dan Sunnahku (HR. Ibnu Murdawaih, dari Abu Ja’far Al-Baqir)

Hal ini dikarenakan manusia tidak memiliki konsep baku tentang kebaikan itu sendiri, kebaikan menurut manusia itu tidak pernah pasti, baik hal itu dikarenakan perbadaan tempat manusia tinggal yang hal ini dipengaruhi oleh lingkungan dan adat setempat, maupun waktu dimana keadaan jiwa dari manusia itu selalu berubah-ubah setiap waktunya. Belum lagi lemahnya akal dalam memahami hakikat diri ini sehingga diperlukan petunjuk dari Allah SWT untuk memberikan jaminan kepastian akan kebaikan yang benar-benar baik bagi diri manusia. Karena Allah adalah Al-Khaliq yang telah menciptakan Manusia, Kehidupan ini dan Alam semesta raya, sehingga hanya Dia saja lah yang mengetahui Hakekat kebaikan dari semua ini. Maka oleh sebab itu apabila kita menginginkan kebaikan bagi manusia, kehidupan manusia, dan alam semesta ini kita harus mengikuti apa yang diturunkan Allah melalui Rasulullah SAW sehingga nampaklah Rahmat Allah tersebut sebagaimana firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu(Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya: 107)

Kalau kita perhatikan lagi Lafadz الخير itu menggunakan kata kerja (يَدْعُونَ /menyeru) dan bentuk masdar-nya (kata benda) dari يَدْعُونَ adalah الدعوة  /da’wah. Sehingga kita memahami bahwa dakwah itu tidak bisa lepas dari yang namanya الإسلام itulah hakikat dakwah, maka tentu ia tidak menyeru kepada selain islam, karena dakwah/ seruan kepada selain islam tidaklah diperintahkan oleh Allah. Apalagi menyeru kepada hal yang berlawanan dengan islam, maka dia bisa menjadi da’i-da’i syetan karena manusia yang menghalangi manusia dari Jalan Tuhannya ia adalah syetan yang berwujud manusia.

Perhatikanlah wahai Ikhwahfiddin sekalian jangan sampai KMM menyeru/dakwah kepada selain islam…!!!

Dan satu lagi sy teringat ketika Prof.DR. Nasaruddin Umar (Wakamen Agama RI) dalam ceramahnya ketika di STKS pernah menyebutkan “bahwa يَدْعُونَ itu satu akar kata dengan Do’a”. yang mana dalam ushul fiqh do’a itu bermakna طلب الفعل من الأدنا إل العلا /tuntutan perbuatan dari yang bawah ke atas. [Lihat Kitab As-Sulam karangan Syaikh Abdul Hamid Hakim] atau dengan kata lain itu adalah harapan, karena orang yang statusnya dibawah tidak bisa memaksa kepada orang yang statusnya diatas. Maka oleh sebab itu dakwah itu tidak boleh dilakukan dengan cara memaksa karena sifatnya adalah seruan bukan perintah langsung, meski di dalamnya ada perintah.

Ini adalah perbuatan yang pertama, perbuatan yang kedua adalah أمر المعروف  menurut Prof.DR. Nasaruddin Umar: “المعروف itu pastiالخير  ,karena ia bagian darinya tetapi الخير belum tentu المعروف “ karena dalam Ilmu Balaghoh المعروف itu tingkatnya diatas الخير. Penjelasan sederhananya seperti ini, di dalam Islam tidak semua berisikan kepada المعروف karena disana ada sejarah umat terdahulu, ada kabar gembira dan kabar pedih akan siksaan dll. Dan المعروف disini menggunakan kata kerja أمر  di dalam ushul fiqh أمر diartikan sebagai berikut:

طلب الفعل من العلا إل الأدنا/ Tuntutan perbuatan dari atas kebawah [Syaikh Abdul Hamid Hakim, As-Sulam, hal 7-8]Sehingga karakteristik dari أمر المعروف  itu memaksa kepada orang yang dibawahnya, sehingga ini agak sedikit berbeda dengan dakwah yang disana tidak ada unsur untuk memaksa. Makanya sebagaimana disebutkan Imam Nawawi bahwa pekerjaan Amar Ma’ruf Nahyi Munkar itu sebenarnya dikerjakan oleh para penguasa pada awalnya (Lihat Syarah Shahih Muslim, juz1 Hal 519) karena hanya para penguasa sajalah yang dapat memaksa hal ini. Karena mereka memiliki kekuasaan untuk melakukan hal itu. Meski pada akhirnya Kewajiban Amar Ma’ruf Nahyi Munkar tidak hanya dilakukan oleh seorang penguasa tetapi juga setiap orang yang memiliki kemampun untuk memaksa orang lain dalam Amar Ma’ruf Nahyi Munkar baik itu lewat Tangan (Keputusan, Peraturan/perintah baik itu di level negara yang menyuruh kepada rakyatnya hingga di level organisasi yang menyuruh kepada para anggotanya, ataupun di level keluarga seperti seorang bapak yang menyuruh kepada istri dan anaknya untuk Amar Ma’ruf ataupun Nahyi Munkar). Ataupun lewat lisan ini juga bisa disebut dengan dakwah yang bisa dilakukan oleh setiap orang yang memahami akan masalah tersebut seperti para ‘Alim/orang yang berilmu dan para Ulama/orang yang takut kepada Allah.

Dan perbuatan yang ketiga adalah nahyi munkar, hal ini lawan dari perbuatan yang kedua, dimana munkar adalah lawan dari ma’ruf dan nahyi adalah lawan dari amr, sehingga setiap hal yang bertentangan dengan Al-Ma’ruf adalah Al-Munkar. Cuman disini sy tidak perlu memberikan penjelasan yang panjang lebar. Karena dengan kita mempelajari dan memahami tentang Al-Ma’ruf maka kita akan mengetahui bahwa apa itu Al-Munkar.

Ini masukan sy terhadap AD/ART KMM pada BAB III Pasal 8 disana belum disebutkan tentang melaksanakan Amar Ma’ruf dan Nahyi Munkar sehingga dengan tulisan diatas bisa menjadi bahan awal diskusi dalam menentukan tambahan dalam BAB III Pasal 8 tersebut.

Dan selanjtunya adalah nasihat sy kepada para anggota KMM bahwa sebagai seorang pengemban dakwah, yaitu orang yang melakukan aktifitas dakwah dimana aktifitas dakwah ini adalah suatu ibadah kita kepada Allah yang memiliki dampak bagi manusia yang lain, maka perlu diperhatikan bagaimana seharusnya perbuatan ini dilaksanakan sebagaimana kita memperhatikan ibadah seperti sholat dan ibadah yang lain. sedangkan perbuatan itu sendiri terdiri dari 3 hal yaitu niat didalam hati, ucapan/perkataan, dan perbuatan itu sendiri. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Bayhaqi sebagaimana dinukil oleh Ibnu Daqiqil ‘Ied. [Ibnu Daqiqil 'Ied, Syarah Arba’in An-Nawawiyyah, hal 12]. Tapi dari 3 hal tersebut dapat dikerucutkan menjadi 2 hal lagi, yaitu hal-hal yang bersifat Bathiniyyah (niat), dan hal-hal bersifat Dzahiriyyah/Lahiriyyah (perbuatan dan ucapan). Itulah hakikat perbuatan.

Sebagian orang salaf berkata, “Tidaklah suatu perbuatan -betapa pun kecilnya- kecuali akan dihadapkan pada dua pertanyaan: Kenapa dan bagaimana?” Maksudnya, kenapa engkau melakukannya dan bagaimana kamu melakukannya? [Ibnul Qayyim, Mawaridul Aman, hal 2]

Pertanyaan “kenapa?” lebih diarahkan kepada motivasi atau niat seseorang dalam melakukan suatu perbuatan. Sedangkan pertanyaan “bagaimana?” lebih diarahkan kepada cara melaksanakan perbuatan itu sendiri. Maka qaul dari Imam Ahmad dibawah ini rasanya tepat:

وعن الإمام أحمد قال: أصول الإسلام على ثلاثة أحاديث: حديث عمر: (الأعمال بالنيات), وحديث عائشة: (من أحدث في أمرنا ما ليس منه, فهو رد), وحديث النعمان بن بشير: (الحلال بين, والحرام بين).

Dari Imam Ahmad, ia berkata: Dasarnya Islam itu ada dalam tiga hadits, yang pertama haditsnya umar: (sesungguhnya amal itu tergantung dari niat), yang kedua haditsnya ‘Aisyah: (Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak), yang ketiga hadits Nu’man bin Basyir: (yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas). [Ibnu Rojab Al-Hanbali, Jami’ul Ulum wal Hikam, juz 1, hal 61]

Dari qaul diatas imam ahmad memberikan isyarat bahwa dasarnya islam itu terdiri dari lurusnya niat (Hadits dari Umar), dasar dari berbuat yaitu harus beradasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah (Hadits dari ‘Aisyah), dan yang ketiga adalah rambu2 dalam berbuat karena terkadang suatu perbuatan hukumnya belum jelas atau dengan kata lain hukumnya masih syubhat sehingga kita diminta menjauhi syubhat itu (Hadits dari Nu’man bin Basyir).

Maka sebagaimana dalam ibadah hal pertama yang perlu diperhatikan adalah Niat, mari kita perhatikan niat itu seperti apa?

Defenisi Niat secara Lughat (bahasa) menurut Syaikh Ahmad al-Husiani sebagaimana di kutip oleh DR. Umar Sulaiman al-Asyqar adalah Al-Qashdu (kehendak, maskud, atau Tujuan)atau ulama lain mengatakan: Muthlaqul Qashdi (Semata-mata hanya tujuan). [DR. Umar Sulaiman al-Asyqar, An-Niyyatu fil Ibadaat, hal 15; KH. M. Sjafi’i Hadzami, Taudlihul Adillah, IV/132]

Maka pertanyaan sy kepada Ikhwah Fiddin sekalian, apa tujuan kalian masuk KMM? Jangan sampai tujuan kalian bukan karena Allah dan Rasul-Nya atau semata-mata karena urusan dunia seperti ingin tenar/terkenal, mendapatkan pacar ataupun untuk mendapat uang dan lain sebagainya, sy katakan kepada Antum bahwa apabila yang kalian cari adalah dunia maka sy berani memberikan jaminan kepada antum bahwa kalian tidak akan mendapatkan apapun dari yang kalian inginkan di KMM, sehingga sy bisa pastikan kalian akan dengan mudah berhenti dan mundur dari perjuangan ini karena KMM bukan untuk mencari hal tersebut.

mari kita renungi hadits dibawah ini:

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (HR. Bukhori: 1)

Terdapat didalam Kutub As-Sab’ah (Bukhori, Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah. Ahmad). Hadist Ahad/Gharib(Diriwayatkan hanya 1 jalur saja)

Hadits ini adalah Hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan didalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya,yaitu di كتاب بدء الوحي /di bab Permulaan trurunnya wahyu, juga di bab iman((كتاب الإيمان, 6 tempat lainnya. Imam Muslim juga telah meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad dan di kitab Al-Imarah, Imam Abu Dawud pada Sunannya menuliskannya pada kitab Thalaq, Imam Tirmidzi pada kitab Fadhoil Jihad, Imam Ibnu Majah pada Kitabuz Zuhd, Imam Nasa’i di Kitabut Thaharah, dll. [Al-Waafi fi Syarhil Arba’in Nawawiyyah, hal 2; Ibnu Daqiqil 'Ied, Syarah Arba’in An-Nawawiyyah, hal 12]

وبه صدر البخاري كتابه الصحيح, وأقامه مقام الخطبة له, إشارة منه إلى أن كل عمل لا يراد به وجه الله, فهو باطل, لا ثمرة له في الدنيا زلا في الأخرة

Imam Bukhori memulai kitab Shahihnya dengan hadits ini dan menempatkannya sebagai kata pengantar, menandakan sebagai isyarat darinya bahwa semua amal perbuatan yang tidak dimaksudkan kepada wajah Allah adalah batil dan tidak ada buahnya di dunia dan di akhirat. [Ibnu Rojab, Jami’ul Ulum wal Hikam, juz 1, hal 61]

Para ulama begitu memperhatikannya niat ini hingga ia selalu menjadi landasan sebelum para ulama menulis kitab-kitabnya dan berbuat karena ketika kita berbuat dengan niat yang salah sebagus apapun amal yang ia lakukan maka itu tidak ada gunanya. Maka sebelum Ikhwah sekalian menyelami perjuangan ini lebih dalam mari introspeksi diri apa tujuan kita bergabung dalam jama’ah ini.

Akhir kata sy tutup tulisan ini dengan sebuah hadits:

          Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al Asy’ari, bahwa seorang laki-laki pedalaman datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ada seorang laki-laki yang berperang demi mendapatkan ghanimah, ada seorang laki-laki yang berperang supaya dirinya dikenal sebagai pahlawan, ada pula seorang laki-laki yang berperang agar dirinya dihormati, maka siapakah yang disebut berjihad(berjuang) di jalan Allah?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berjihad untuk menegakkan kalimat Allah setinggi-tingginya, maka itulah yang disebut berjihad di jalan Allah.” (HR. Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: